Apa Itu OKR? — Part 1

Aan Setianto
4 min readFeb 29, 2020

OKR ( Objectives and Key Results) adalah goals management framework, yang awalnya dibuat oleh Peter Drucker, dikembangkan oleh Andy Grove (Intel) dan kemudian menjadi populer karena digunakan oleh Google, sampai sekarang. OKR akan menuntun startup kamu dalam mencapai tujuan berdasarkan strategi dan visi yang telah kamu tetapkan sebelumnya.

Sehebat apapun visi dan strategi, ia hanya akan menjadi sekedar mimpi jika kamu tidak hebat dalam mengeksekusi.

Dengan OKR, pencapaianmu akan 10 hingga 20 kali lipat lebih cepat, karena fokus yang terjaga, eksekusi dan hasilnya bisa diketahui bersama ( transparency) , serta tujuan dan tindakan tiap tim bisa saling diselaraskan ( alignment).

Kita lanjut. Tapi sebelumnya, saya minta waktu kamu 5–10 menit untuk mengerjakan sesuatu.

Apa tujuan kamu ?

Tolong tuliskan lima tujuan penting yang ingin kamu capai terkait posisi pekerjaan kamu pada saat ini. Tolong tambahkan juga pada tujuan tersebut, pertanyaan : sejak kapan tujuan itu dimulai ? Kapan target dari tujuan itu harusnya sudah selesai ? Lalu, kapan terakhir kali kamu dengan fokus mengerjakan pencapaian tujuan ini?

Sudah ?

Gampang atau susahkah menuliskan tujuan dengan gamblang ?
Karena tidak semua orang bisa menuliskannya dengan mudah.

Ada tiga kemungkinan yang terjadi jika mereka diminta untuk melakukan hal di atas : menuliskan terlalu banyak tujuan, tidak ada tujuan sama sekali, atau menuliskan tujuan yang selalu berubah-ubah.

Kamu yang mana ?

Apakah kamu memiliki terlalu banyak tujuan ? Atau sulit untuk menuliskan satu tujuan sama sekali ?
Ataukah kamu memiliki tujuan yang berubah begitu cepat sehingga tidak mungkin bagimu untuk benar-benar mengetahui mau ke arah mana ?

Oke, … “kabar baiknya” adalah, kamu tidak sendirian. Itulah yang dialami kebanyakan orang, di mana pun mereka bekerja.

Tetapi, waktu akan tetap terus berjalan, walaupun kamu tidak memiliki tujuan yang jelas. Artinya, kamu (atau startup kamu) tidak sedang menuju kemana-mana. Itu bahaya. Jadi, silakan lanjut membaca…

Konsekuensi jika terlalu banyak tujuan

Kamu sama sekali tidak bisa fokus. Ditambah lagi dengan beberapa hal berikut ini :

  • Tujuan yang terlalu banyak akan menimbulkan kebingungan, karena kamu tidak tahu apa yang sebenarnya penting.
  • Kamu akan mencoba multitasking setiap saat, dan ini sangat tidak efektif.
  • Hal yang mendesak hampir selalu didahulukan, sementara yang penting ditunda sampai menjadi mendesak.
  • Kamu mengerjakan tugas yang tidak berarti, yang begitu tugas itu selesai tidak ada yang peduli dengan hasilnya (saking banyaknya tugas).
  • Tidak ada yang selesai, karena banyak tugas macet di 80–90 persen untuk alasan apa pun, dan tidak dapat diselesaikan. Lalu kamu akan merasa tidak puas dan menyebabkan hilangnya motivasi.
  • Kalaupun kamu berhasil menyelesaikan tugas dalam rangka pencapaian tujuan (kejadian yang langka), maka tidak ada rasa puas, karena masih ada 29 tugas mendesak lainnya (yang harusnya juga sudah diselesaikan).

Tidak punya tujuan yang bisa dituliskan sama sekali ?

Oke, mungkin ini beberapa alasan yang akan kamu katakan :

  • Tidak ada yang menetapkan tujuan untuk saya, atau
  • Keadaan berubah begitu cepat sehingga tidak masuk akal untuk menentukan tujuan, atau
  • Kamu frustrasi dan berkata, “Saya menyerah menetapkan tujuan karena itu tidak pernah berhasil di waktu-waktu sebelumnya”.

Tetapi, apa konsekuensi dari tidak memiliki tujuan ?

  • Kamu hampir tidak mempunyai kegiatan yang strategis, karena tanpa tujuan, berarti tidak ada strategi
  • Atau sebaliknya, kamu tidak merasakan gairah dan kegembiraan di tempat kerja, karena tidak ada tujuan yang berarti, atau tidak ada tujuan yang ingin kamu perjuangkan.
  • Lalu hasilnya adalah kurangnya motivasi.

Buat kamu yang merasa tidak masuk golongan orang di atas, selamat buat kamu. Itu artinya kamu berhasil menulis beberapa tujuan yang jelas dan spesifik.
Tetapi, meskipun sudah punya beberapa tujuan yang jelas dan spesifik, ternyata masih saja ada tantangannya. Apakah itu ?
Yaitu, kamu bisa saja kemudian masih mempunyai pernyataan ini :

  • Saya tidak tahu bagaimana cara bekerja secara aktif dan tepat untuk menuju tujuan saya, atau tidak ada yang peduli dengan hasil saya, jadi mengapa saya harus mengusahakannya.
  • Perhatian saya terus menerus teralihkan, sehingga saya tidak membuat kemajuan.
  • Saya seorang penunda ulung, dan meskipun tujuan saya jelas, saya tidak bisa produktif dan frustrasi dengan ini.
  • Bahkan mungkin kamu berkata, “Saya stuck disini”

Kesalahan paling umum dalam mendefinisikan tujuan

Agar berhasil, kamu harus menentukan tujuan dengan cara yang benar, kemudian mengerjakannya. Untuk lebih meningkatkan lagi peluang keberhasilanmu, hindari kesalahan-kesalahan ini ketika mendefinisikan tujuan :

  1. Kamu sudah punya tujuan, tetapi tidak punya rencana khusus untuk mencapainya.
  2. Kamu menetapkan tujuan hanya di pikiran (tidak menulisnya), mengingatnya berhari-hari, kemudian hilang karena kesibukan, dan tidak ada yang dilakukan.
  3. Ada begitu banyak tujuan yang tidak bisa kamu tentukan mana yang akan diprioritaskan, yang pada akhirnya malah kamu tidak memilih apa pun, dan tidak berusaha mencapai tujuan apa pun.
  4. Tujuanmu terlalu ambisius, dan kamu tidak tahu harus mulai dari mana, sehingga kamu malah tidak memulai sama sekali.
  5. Kamu tidak mengukur kemajuan yang telah kamu buat pada setiap perjalananmu mencapai tujuan, atau mungkin cuma kadang-kadang saja, misalnya setahun sekali. Oleh karenanya, kamu tidak merasakan atau melihat, bahwa kamu telah membuat kemajuan. Nah, setelah beberapa bulan, kamu akan berpikir bahwa kamu tidak membuat kemajuan apa pun, lalu menjadi frustrasi dan menyerah, bukannya mencari jalan lain.
  6. Tidak ada review apakah tujuan masih relevant bisa dicapai, dan tidak ada pembelajaran dari masa lalu. Ibaratnya kamu seperti mengukir tujuanmu pada batu.
  7. Mencapai tujuan dipandang sebagai hal yang biasa, tidak ada yang istimewa, tidak diperhatikan atau dirayakan sebagai keberhasilan.
  8. Tujuan tersebut tidak berarti bagimu karena kamu cuma diperintahkan saja untuk mencapainya, atau kamu memilihnya hanya untuk menyenangkan atau membuat orang lain terkesan.

Kesalahan terbesar dalam hal penetapan tujuan adalah kamu tidak menetapkan tujuan apa pun.

Saya yakin kamu sudah mengetahui beberapa dari kesalahan-kesalahan itu, dan bahkan mungkin malah sudah melakukannya.

Pada tulisan selanjutnya, saya akan share, bagaimana OKR bisa membantu fokus dan bekerja secara efektif menuju tujuan, dan memastikan kamu memilih tujuan yang tepat, yang ini mungkin tidak pernah kamu lakukan sebelumnya.

Originally published at http://aansetianto.com on February 29, 2020.

--

--

Aan Setianto

Business and Technology Enthusiast | Love to learn and share inspiration