Jangan Bangun Startup!

Aan Setianto
6 min readFeb 9, 2020

Tulisan ini terutama untuk para anak muda yang saat ini hanya punya semangat dan mimpi. Karena itu saja tidak akan cukup. It sounds like pessimistic? Sad but true.

Saya cukup sering bertemu dan menghadapi anak-anak muda seperti ini, yang datang kepada saya dengan bersemangat, bercerita bahwa dia sedang membangun startup. Mereka ingin mendirikan startup karena mungkin sering mendengar cerita sukses para pendiri startup yang terkenal. Mark Zuckerberg, Jeff Bezoz, Nadiem Makarim, dll. Sesuatu yang bagus sebetulnya. Negara kita membutuhkan banyak anak muda seperti ini. Tapi setelah ngobrol sekian lama, dia bahkan sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dia kerjakan. Kebanyakan mereka berpikir untuk segera mendapatkan dana dari investor, mengira idenya sudah hebat, merasa keren dengan menjadi founder/CEO, lalu enggan mengerjakan “hal-hal kecil”. Bahkan definisi startup itu sendiri dia masih bias.

Ada banyak definisi startup yang bisa didapatkan dari hasil googling. Tetapi menurut saya, pengertian startup sendiri secara singkat adalah “PERUSAHAAN yang berusia di bawah 5 TAHUN”. Tidak harus di sektor teknologi, tidak tergantung dari bentuk perusahaan, tidak melihat jenis industrinya, atau bahkan besarnya permodalan. Jadi, kata kuncinya adalah “PERUSAHAAN” dan “DI BAWAH 5 TAHUN”. Karena, masa 5 tahun pertama adalah masa kritis perusahaan. Tetapi, meski sudah lewat masa itu sekalipun, tetap tidak bisa menjamin perusahaan itu akan terus survive di masa berikutnya.

Nanti, pada lain kesempatan saya akan share tentang tahapan-tahapan yang harus dilalui perusahaan, insyaallah.

“Mendirikan perusahaan itu relatif mudah. Menjalankannya agar tetap hidup itulah yang tidak mudah. Menjadikannya tumbuh besar dan terus untung adalah sesuatu yang sama sekali tidak mudah”

Saya tidak hendak menyurutkan semangat. Tapi karena orang lebih suka hanya menceritakan sisi indah tentang startup, daripada sisi realitas keseluruhannya, maka di kesempatan ini saya akan share pengalaman saya. Sisi lain membangun perusahaan.

Saya mulai mendirikan perusahaan bersama seorang teman pada tahun 2006. Di awal berdirinya, saya melakukan hampir semua pekerjaan. Mulai dari jualan, membuat dokumen, programming, sampai narik-narik kabel. Seiring berkembangnya perusahaan, kita mulai memperkerjakan 2 karyawan lain, yang kemudian terus berkembang menjadi 2 perusahaan dengan total lebih dari 400 karyawan dalam waktu 8 tahun. Kemudian terjadilah disrupsi itu. Keadaan banyak berubah, kami harus cepat bertindak, karena jika tidak, perusahaan akan redup, lalu mati. Maka di akhir tahun 2016, kami mendirikan lagi perusahaan baru. Perusahaan yang berbasis teknologi. Perusahaan yang saya sebutkan di atas. Relatif baru, tapi perkembangannya luar biasa cepat menurut saya. Dari sisi SDM, yang dari hanya 8 orang, menjadi sekarang 122 orang dan terus bertambah. Mereka talent-talent muda yang hebat dan berbakat, dari banyak perguruan tinggi terkemuka. Dari sisi kepercayaan, kita mendapatkan banyak client dan partner dari beberapa perusahaan besar, BUMN dan government. Dari pendapatan juga terus tumbuh. Para VC juga sudah datang untuk memberikan banyak tawaran. Oiya, workplace kita juga cozzy.

Perusahaan ini memang belum sebesar para unicorn, tapi itu saja sudah terasa mudah dan menyenangkan ( jika dilihat dari luar). Mereka tidak tahu prosesnya, hanya melihat bagaimana keadaan perusahaan ini sekarang. Yang mereka tidak tahu adalah, saya sudah mempersiapkannya bahkan sejak 7–17 tahun sebelumnya. Sejak memutuskan berhenti bekerja dari sebuah perusahaan provider telco. Pahit-getir-asin sudah saya alami. Dari jatuh, bangun, lalu jatuh lagi, lalu bangun lagi, dan belum tentu sekarang ini, atau nanti, saya tidak akan jatuh lagi.

Berdasarkan pengalaman pribadi dan berbagai sumber, inilah yang bisa saya bagi, buat mereka yang ingin menjadi founder, menjadi pengusaha, mendirikan perusahaan. Jika kalian tidak memiliki hal-hal ini (yang bahkan masih sebagian), maka jangan pernah jadi founder.

*(Saya akan menggunakan kata “founder” agar selaras dengan dunia startup. Founder yang sekaligus juga pengusaha)

Pastikan Anda memiliki hal-hal ini. Jangan pernah membangun startup jika Anda tidak mempunyainya.

1. Tujuan yang menggetarkan hati

Ya, harus menggetarkan hati. Karena, tujuan inilah yang akan selalu kita ingat untuk membuat terus bertahan ketika keadaan sulit datang menghimpit. Coba tanyakan ke diri sendiri, untuk apa Anda mendirikan startup ? Uang? Ketenaran? Memberi solusi ? Membuat hidup orang lain menjadi lebih baik ? atau apa?

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan beberapa tujuan di atas. Tapi, jika Anda adalah seorang muslim, tujuan ini harus menjadi ibadah. Kita niatkan ini karena Allah. Ada sebuah hadits yang artinya,

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Majah (no. 4105); Imam Ibnu Hibban (no. 72–Mawâriduzh Zham’an); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Jadi, jika tidak ada tujuan yang menggetarkan hatimu, jangan jadi founder.

2. Kesabaran yang panjang, kegigihan yang luar biasa

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim [2999]

Kita sering mendengar atau membaca kisah para usahawan yang kehabisan segalanya. Berada di titik paling bawah hidupnya. Kemudian entah bagaimana caranya, karena kegigihan, dia bisa bangkit lagi menjadi sangat sukses. Kisah yang memang benar-benar terjadi pada sebagian orang. Tetapi, pada realitanya lebih banyak lagi kisah yang serupa, mereka juga sama gigihnya, tetapi akhirnya gagal juga.

Saya atau Anda, bisa jadi adalah salah satu founder yang akan mempunyai kisah yang sama. Jadi kita membutuhkan ketekunan, kesabaran, ketabahan dan kegigihan untuk berhasil. Jika Anda tidak memilikinya, sebaiknya jangan jadi founder.

Pelajaran dari keduanya adalah, mereka semua mempunyai kesabaran dan kegigihan.

3. Kemampuan membangun tim hebat

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” [At-Taubah/9:119]

Bahkan peneliti dari dunia Barat pun, Thomas J. Stanley, Ph.D dalam bukunya Millionaire Mind, menemukan bahwa kejujuran adalah urutan pertama dari keberhasilan seseorang, juga kesuksesan perusahaan.

Sehebat apapun seseorang, tidak akan mungkin dia mengerjakan semua pekerjaan sendiri dengan baik. Apalagi jika itu membutuhkan expertise yang spesifik. Jika Anda tidak dapat merekrut orang-orang jujur dan hebat menjadi bagian dari tim Anda, peluang berhasil untuk membangun perusahaan akan mengecil.

Tentang cara membangun tim yang jujur dan hebat, saya akan share pada kesempatan lain, insyaAllah.

4. Tetap fokus pada rencana

Pelajaran penting dari perjalanan saya mewujudkan ide menjadi sebuah bisnis yang berjalan baik, adalah untuk berkata tidak pada tawaran baru (yang sepertinya menjanjikan). Konsentrasilah mengerjakan segala hal pada rencana yang sudah Anda buat, sampai selesai. Tetap menjaga fokus itu sangat penting. Bahkan, meskipun Anda sudah fokus menyelesaikan pekerjaan saat ini, itu pun tidak jaminan keberhasilan. Apalagi jika Anda tidak fokus, bisa ambyar semua.

Ada tips, jika memang harus menerima tawaran baru karena alasan yang penting atau strategis. Akan saya share caranya juga di lain kesempatan.

5. Pemikiran yang mudah dijelaskan

Sebagai founder, Anda harus bekerja dan menghadapi banyak pihak. Mulai dari tim yang sekarang, calon karyawan, investor, rekanan, co-founder. Jika Anda tidak mempunyai pemikiran yang jelas serta mudah disampaikan kepada orang lain, rasanya Anda akan sulit untuk berhasil. Bayangkan Anda mau rekrut co-founder, tapi tidak bisa dengan jelas menyampaikan tentang ide Anda. Terlebih lagi jika Anda tidak bisa meyakinkan calon investor ideal, tentang apa yang akan dicapai perusahaan. Bahkan untuk mempertahankan karyawan existing, Anda dituntut untuk mampu menjelaskan dengan gamblang rencana-rencana perusahaan Anda ke depan.

Kemampuan menjelaskan ini juga terkait dengan visi yang jelas, kemudian menjabarkannya dalam eksekusi yang terukur hasil dan waktu pencapaiannya. Bagaimana caranya? Saya nanti akan share tentang beberapa management framework, KPI dan OKR, insyaAllah.

6. Takut atau malu menjual

Latar belakang pendidikan formal saya adalah Elektronika. Kemudian belajar secara otodidak menjadi programmer. Seiring waktu, saya dituntut untuk bisa melakukan banyak hal. Dari operasional, HR, finance sampai jualan. Dari seorang programmer, menjadi CEO.

Seorang founder adalah orang yang paling bergairah dan mengerti betul tentang perusahaanya, termasuk apa yang dijual. Jika Anda pada posisi ini, tetapi takut atau malu menjual produk Anda sendiri, lalu apa yang akan Anda harapkan dari tim Anda yang lain ? Mulailah menjual, ketakutan Anda lama-lama akan hilang dan percaya diri akan tumbuh.

Itulah yang bisa saya share pada kesempatan ini, semoga bisa bermanfaat. Di lain kesempatan saya akan share lagi beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas.

--

--

Aan Setianto

Business and Technology Enthusiast | Love to learn and share inspiration