Selamat Tinggal Kuliah?

Aan Setianto
5 min readSep 5, 2020

Saya tidak sedang menyarankan kamu untuk berhenti kuliah, atau tidak kuliah, atau para orang tua untuk tidak menyekolahkan anaknya. Saya hanya akan mengabarkan kepada Anda tentang apa yang sedang terjadi di dunia yang serba cepat ini.

Beberapa waktu lalu, Google mengumumkan bahwa mereka meluncurkan program sertifikasi profesional baru yang dihosting di Coursera.

no college degree required

Menjadi siap kerja dalam waktu sekitar enam bulan, tidak diperlukan pengalaman sebelumnya.

Itu janjinya !

Hanya dengan US$ 49 atau sekitar Rp 700 ribuan sebulan, orang bisa mendaftar untuk mendapatkan sertifikasi dalam bidang data analytic, project management, UI/UX design, atau IT Support.

Setelah selesai, (biasanya antara tiga hingga enam bulan), lulusan bersertifikat dipersilakan untuk melamar pekerjaan di Google.

Google mencantumkan gaji tahunan rata-rata untuk karier ini antara US$ 54.750 hingga US$ 93.000. Tidak ada pengalaman sebelumnya atau pendidikan tinggi yang diperlukan untuk mendaftar dalam program ini.

Ya…, cara belajar, dan cara memperoleh pendidikan/keterampilan sedang berubah !
Cara yang akan meringankan biaya pendidikan, dan mengurangi pengangguran.

Seolah Google sedang mengatakan, “Selamat tinggal kuliah 4 tahun !”

Anda bisa mendapatkan detilnya di sini : https://grow.google

Jurang Diantara Sistem Pendidikan Dan Dunia Industri

image source: somewhere on the internet

Ada jutaan orang lulusan perguruan tinggi yang sedang sibuk mencari pekerjaan. Tetapi saya tidak bisa dengan mudah untuk mendapatkan talenta yang saya inginkan dari para lulusan tersebut. Sungguh ironis !

Saya sangat tahu, pendidikan sebenarnya tidak hanya disiapkan untuk melahirkan para profesional di bidang industri, tapi juga untuk menanamkan nilai-nilai, dan pengetahuan umum di segala bidang.

Karena, tujuan utama pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi serta mencerdaskan individu dengan lebih baik, sehingga setiap orang akan memiliki pengetahuan, kreativitas, kepribadian, kemandirian, dan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.

Sekarang kita lihat kenyataan yang terjadi.

Pada satu sisi, sebagian besar orang tua menyekolahkan anaknya agar dia bisa bekerja pada sebuah institusi, atau pada sebuah perusahaan. Lalu, mereka berebut mencari sekolah favorit, uang orang tua bisa membawa anaknya mendapat pilihan pendidikan yang jauh lebih baik. Anak takut mengambil pilihan sendiri karena mengikuti arahan orang tua, atau tidak sesuai standar masyarakat. Terjadilah kompetisi yang sangat individualistis, egois, dan mau menang sendiri.

Di sisi lain, dunia bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat daripada bagaimana sistem pendidikan kita bertransformasi. Kita benar-benar menghabiskan banyak uang untuk gelar universitas, yang itupun tidak “mempersenjatai” kita untuk berperang melawan dunia saat ini. Kecuali pada beberapa institusi yang bagus, selebihnya hanya menghasilkan orang dengan gelar akademis, tanpa value apapun.

Itu sebabnya siswa sebenarnya mulai belajar ketika mereka keluar dari perguruan tinggi, padahal seharusnya ketika mereka masih kuliah.

Beberapa universitas tidak peduli untuk memperbarui teknologi dalam silabus. Laboratorium mereka masih terdiri dari instrumen teknis berusia puluhan tahun untuk melakukan percobaan.

Mata kuliah praktikum tidak diberikan bobot yang sama seperti mata kuliah teori. Tidak ada jumlah yang sama dari mata kuliah praktek dan teori, tidak ada kredit yang sama untuk mata kuliah praktek dan teoritis.

Kalaupun diajarkan kedua-duanya dengan bobot yang sama, itupun sudah ketinggalan jaman. Padahal kepraktisan yang sesuai dengan kebutuhan jaman, akan menjadi “persenjataan” terbaik bagi siswa untuk bertempur di dunia nyata.

Ada juga perguruan tinggi yang melakukan penurunan bobot mata kuliah praktikum dan menjadikannya tidak signifikan. Hal ini akan mengakibatkan siswa tidak peduli dengan praktik, karena itu tidak banyak berpengaruh pada IPK mereka.

Entah bagaimana, mereka yakin bahwa pengetahuan praktis terkini tidak perlu diberikan di perguruan tinggi.

Maka yang terjadi adalah, jurang pemisah antara dunia industri dan pendidikan menjadi semakin lebar dan dalam.

Penuhi Panggilanmu

Setiap orang punya panggilan hati, ingin menjadi apa dia. Tidak semua orang hasratnya ada pada dunia industri, dan demikian juga tidak semua orang mempunyai kebahagiaan untuk menjadi seorang guru.

Baik kamu ingin masuk pada dunia industri sebagai karyawan, profesional, ataupun sebagai entrepreneur, maka kamu harus fokus pada keahlianmu, atau pada VALUE yang ingin kamu tawarkan.

Menjual solusi yang merupakan keahlianmu ke pasar, akan meningkatkan peluangmu untuk sukses.

Jika kamu adalah orang yang cerdas, kamu akan mencoba melakukan apa yang paling kamu sukai. Tetapi jika kamu seorang yang jenius, kamu hanya akan melakukan apa yang diperlukan.

Jangan selalu ikuti kerumunan. Orang seringkali percaya bahwa hanya ada satu jawaban yang benar untuk setiap pertanyaan. Itulah sebabnya orang selalu ingin mengikuti orang banyak, karena menurut mereka hanya ada satu cara yang benar untuk menjalani hidup.

Edukasi Dirimu Sendiri

Jika kita terus menyalahkan keadaan, kondisi sistem pendidikan kita, lalu menunggu itu dibenahi oleh pemerintah yang terus berganti, maka kamu tidak akan sampai kemana-mana.

Pada perekonomian saat ini, gelar jadi tidak berharga, pengetahuanlah yang menjadi tidak ternilai harganya.

Pergilah kuliah, bukan untuk gelar, tapi untuk mendapatkan ilmu, pengetahuan dan pertemanan ( networking). Dua orang karyawan pertama Facebook yang saat ini ikut menjadi multi milyarder adalah teman sekamar Mark Zuckerberg saat kuliah.

Ada beberapa tips yang mungkin bisa kamu pertimbangkan untuk self-educated.

1. Cari tahu MENGAPA kamu perlu belajar

Untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ? Untuk memulai bisnis ? Untuk beralih ke industri lain? Untuk mendapatkan promosi? Untuk melakukan sesuatu yang berguna di waktu luang kamu, atau daripada menonton Youtube ?

Ini adalah poin penting karena alasan kamu akan menjadi motivasimu. Tanpanya, kamu mungkin hanya akan membuang-buang waktu, atau uang, dan kamu tidak benar-benar mencapai apa pun.

2. Bersikaplah konsisten

Kamu mungkin tidak memiliki jadwal belajar yang tetap, tetapi jika kamu sudah memutuskan untuk mengambil kursus marketing, kursus pemrograman, kursus bahasa, atau lainnya, lalu jika kamu sudah memulainya, pastikan kamu menyelesaikannya.

Satu jam sebelum tidur, beberapa jam di akhir pekan, 15 menit saat istirahat makan siang, 15 menit di pagi hari, atau saat terjebak kemacetan, atau kapan saja menurutmu. Temukan slot waktu luang itu, dan selesaikan kursusmu. Maka kamu akan mendapatkan value darinya.

3. Lakukan riset

Sebenarnya, ini seharusnya tip #2, karena kamu sebaiknya melakukan penelitian sebelum memilih kursus terbaik, sehingga tidak membuang waktu dan uangmu.

Mulailah dengan kursus gratis dulu. Ada banyak konten pendidikan di luar sana, di web. Yang harus kamu lakukan hanyalah mencari video di Youtube, ebook, webinar gratis, podcast, dll. Setelah itu mungkin kamu boleh membeli kursus, atau sertifikasi secara lengkap seperti yang ditawarkan oleh Google di atas.
Kamu bisa belajar banyak sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam kursus-kursus itu.

Selain itu, kursus gratis memungkinkan kamu memahami seberapa konsisten dirimu, dan apakah kamu bisa menyelesaikan setidaknya satu kursus yang telah kamu ambil.

Pengendalian diri itu rumit. Pendidikan mandiri itu sangat penting. Terutama bagi mereka yang ingin melakukan perubahan dalam hidup.

Originally published at https://aansetianto.com on September 5, 2020.

--

--

Aan Setianto

Business and Technology Enthusiast | Love to learn and share inspiration